Site Overlay

Kesejahteraan Masyarakat Lebih Utama, Prof Tholabi Suarakan Penundaan Pilkada

jpnn. com , JAKARTA kacau Dekan Fakultas Syariah dan Adat Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Ahmad Tholabi Kharlie mengingatkan penyelenggara pemilu mempertimbangkan janji Pilkada Serentak 2020.

Peringatan dari Tholabi itu didasari pelaksanaan tahapan pendaftaran pasangan calon kepala daerah untuk Pilkada Berbarengan 2020 yang diwarnai maraknya pelanggaran protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19.

Tholabi mengungkapkan, ada banyak pelanggaran pada protokol kesehatan selama tiga hari masa tahapan pendaftaran pasangan bahan untuk Pilkada Serentak 2020. Antara lain adalah pengerahan massa yang menimbulkan kerumunan sehingga tidak ada jangka fisik (physical distancing) ataupun pengikut yang tak mengenakan masker.

Baca Juga:

“Ini sangat mengkhawatirkan, keselamatan warga negeri menjadi taruhannya, padahal keselamatan awak merupakan hukum tertinggi, salus populi suprema lex esto , ”  ujar Tholabi meniti siaran pers ke media, Senin (7/9)

Tholabi lantas menyinggung soal Peraturan KPU (PKPU) Nomor 6 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pilkada Serentak Pada Kondisi Bencana Nonalam Covid-19. Menurut nya, banyak kontestan pilkada yang melalaikan ketentuan PKPU tersebut.

“Jika penyelenggara dan peserta pilkada tidak mampu menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 dengan rigid dan konsekuen, lebih baik pilkada ditunda saja. Keselamatan warga negara di atas segalanya, ” membuka Tholabi.  

Baca Juga:

Ketua Forum Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Sekolah tinggi Keagamaan Islam (PTKI) se-Indonesia itu menambahkan, seluruh pemangku kepentingan harus memiliki komitmen kuat menerapkan aturan kesehatan jika Pilkada Serentak 2020 tetap bakal digelar 9 Desember mendatang. “Ini pekerjaan rumah berhubungan, ” tegasTholabi.  

Oleh karena itu Tholabi mendorong pemerintah pusat, pemda, Satgas Covid-19, penyelenggara pemilu, pasangan calon serta partai politik kembali bersandar bersama untuk memastikan penerapan adat kesehatan untuk mencegah virus pemicu pandemi global tersebut.